Jumat malam, 31 Desember 2010, hari terakhir tahun 2010, merupakan hari super istimewa bagi keluarga kami. Betapa tidak, tepat di malam pergantian tahun, ayah mertua saya, Bapak H.R. Nuriata, SE., menerima anugerah insan pariwisata Jawa Barat. Tidak tanggung-tanggung, anugerah ini disampaikan di salah satu gedung ‘keramat’ yang dimiliki ibukota Priangan, yaitu Gedung Asia Afrika, dan diberikan langsung oleh Bapak Ahmad Heryawan, Lc., Gubernur Jawa Barat, dalam acara yang diliput luas oleh media dan insan pariwisata dan budayawan Jawa Barat.
Ayahanda Nuriata, populer dipanggil Bapak Tata, ternyata seorang besar yang bersahaja. Beliau orang besar dalam rintisan karya, dalam keistiqamahan, dalam kesetiaan, dalam kerja tanpa pamrih, dalam kekebalan beliau terhadap rayuan harta dan tahta, dalam kebersahajaan dan dalam kemampuan untuk tidak banyak menuntut kepada siapapun. Sebagai bakti seorang muda kepada ayahnya, saya ingin abadikan beberapa aspek kehidupan yang selama lima belas tahun terakhir saya saksikan bersama istri dalam kebersamaan kami di rumah sederhana di kawasan Jatihandap, tepatnya di Desa Mandalamekar, Kecamatan Cimenyan, Kabupaten Bandung.
Dari aspek pendidikan formal, walaupun tergolong sebagai siswa dan mahasiswa yang cerdas, Bapak Tata bisa dikatagorikan ‘hampir’ berhasil. Artinya, tidak pernah berhasil meraih gelar sarjana di bidang-bidang favorit. Beliau pernah menjalani pendidikan di Fakultas Kedokteran Unpad, ITB Jurusan Teknik Sipil dan Teknik Kimia, dengan status hampir lulus. Beberapa dokter kenamaan di Bandung adalah orang-orang yang Bapak Tata bantu semasa kuliah. Bahkan beliau mementori adik beliau, mantan Gubernur Jawa Barat, Bapak HR Nuriana, semasa sama-sama kuliah di ITB pada pertengahan abad lalu. Demikian seringnya ke’hampir’an beliau dalam studi, sehingga almarhum kakek R. Atin putus asa dan menyerahkan sepenuhnya keputusan pemilihan jalan hidup Bapak Tata kepada ananda tercinta.
Hobby yang ternyata menjadi pilihan hidup beliau adalah travelling. Ya…, berkelana ke segenap pelosok daerah, bahkan mancanegara, merupakan hal yang menyebabkan seluruh program studi penjamin kesuksesan pada masa itu terbengkalai. Beliau lebih menyukai bekerja sebagai juru masak di kapal laut, hingga beliau bisa berhaji tahun 1968 sebagai ABK. Beliau belajar bahasa asing dan berbagai bahasa daerah secara otodidak, di antaranya sebagai guide bagi turis Belanda di Nitour.
Hobby berkelana dan mendalami kebudayaan setempat ini membawa beliau menjadi dosen luar biasa di NHI (sekarang Sekolah Tinggi Pariwisata) Bandung. Beliaulah salah satu pendiri jurusan Tour & Travel NHI, dan terus mengajar sebagai dosen honorer sejak berusia 35 tahun hingga sekarang (usia beliau saat ini 75 tahun). Tenaga honorer? Itu dikarenakan beliau terlalu tua untuk menjadi PNS pada saat para yunior beliau bisa ikut test PNS. Itulah suratan takdir yang ditempuh oleh Bapak Tata, sumber inspirasi saya.
Status sebagai tenaga honorer dengan segala kondisi yang ‘minimalis’ ternyata tidak menyurutkan langkah beliau berkontribusi. Buku-buku diktat tulisan beliau merupakan tonggak bagi ilmu Tour & Travel di NHI, dan karena institusi ini merupakan referensi bagi seluruh pendidikan Tour & Travel di Indonesia, maka turunan diktat tersebut menjadi standar di seluruh institusi pendidikan pariwisata di seluruh Indonesia, mulai SMK Pariwisata hingga segenap akademi perhotelan dan pariwisata. Ketika saya dan istri saya Diah mendaftarkan diklat kuliah yang beliau tulis langsung, ternyata jumlahnya mencapai lebih dari 30 buah.
Sepanjang yang beliau ingat, beberapa kali diktat beliau dibajak tanpa ijin. Dan hebatnya, beliau tidak care terhadap praktek pencedaraan hak cipta ini, karena orientasi Bapak Tata adalah bagaimana ilmu pariwisata dapat menghasilkan berbagai kebajikan dan kemanfaatan luas di seluruh pelosok Indonesia.
Dan kekaguman saya semakin memuncak ketika akhirnya beliau menyelesaikan pendidikan sarjana ekonomi pariwisata di Aktripa Bandung. Tidak tanggung-tanggung, beliau meraih gelar SE Pariwisata dengan predikat Summa Cum Laude pada usia menjelang 70 tahun!
Bapak Tata Nuriata… memang layak jadi teladan bagi kita. Salam takdzim dari ananda yang masih harus mengasah diri menjalani tantangan kehidupan. Semoga tabungan kebajikan yang beliau rintis dalam perjalanan panjang kontribusi kehidupan guna memberdayakan masyarakat luas pada gilirannya menjadi amal jariah yang mengantar beliau dan keluarga menuju keridhaan Allah swt. Amin

